Indonesia Bidik Swasembada 8 Komoditas Pangan, Apa Saja Yang Ditargetkan?

Tak hanya beras, pemerintah kini membidik cabai, beras, jagung, telur hingga bawang merah agar tak lagi bergantung pada luar negeri

Pexels/Matthew Yeung

Pemerintah menargetkan Indonesia mampu mencapai swasembada delapan komoditas pangan strategis pada Juni 2026 mendatang.

Setelah sebelumnya mengklaim berhasil memperkuat produksi beras, kini target diperluas ke sejumlah komoditas penting yang selama ini menjadi penentu harga.

program ini disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Berdasarkan neraca pangan dari Badan Pangan Nasional delapan komoditas yang ditargetkan meliputi beras, jagung, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, bawang merah, daging ayam, dan telur ayam.

Pemerintah menyebut sebagian besar komoditas tersebut telah menunjukkan tren surplus hingga pertengahan 2026 mendatang.

Untuk beras misalnya, pemerintah memproyeksikan ketersediaan mencapai sekitar 31,3 juta ton, sementara kebutuhan nasional diperkirakan 15,4 juta ton, menghasilkan surplus sekitar 15,8 juta ton.

Sementara pada komoditas jagung, ketersediaan disebut mencapai 13,2 juta ton dengan kebutuhan sekitar 8,4 juta ton, atau surplus sekitar 4,7 juta ton.

Komoditas hortikultura juga diklaim menunjukkan hasil positif, sehingga cabai besar diproyeksikan surplus sekitar 87 ribu ton, cabai rawit sekitar 61 ribu ton, dan bawang merah sekitar 53 ribu ton.

Pemerintah bahkan menyebut bahwa sebagian pada produksi bawang merah telah mulai diarahkan untuk kebutuhan ekspor.

Di sektor peternakan, produksi daging ayam dan telur ayam disebut telah melampaui kebutuhan domestik, menjadikan Indonesia semakin dekat pada target swasembada protein hewani tertentu.

Hal ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga sekaligus menjamin ketersediaan pangan masyarakat pada Juni 2026 mendatang.

Meski terlihat optimistis, sejumlah pihak mengingatkan bahwa swasembada tidak cukup diukur dari produksi semata. Distribusi, kestabilan harga, hingga keberlanjutan pasokan saat cuaca ekstrem juga akan menjadi ujian penting.

Sebab, masyarakat pada akhirnya akan menilai keberhasilan program ini dari harga cabai, telur, dan beras di pasar bukan hanya angka surplus di laporan pemerintah. (EN)***