Harga pakan ternak yang sering berubah menjadi tantangan besar bagi peternak ayam di Indonesia, ketika harga jagung naik, biaya produksi ikut meningkat dan keuntungan peternak bisa tergerus dalam waktu singkat.
Situasi inilah yang mendorong pemerintah mulai menggulirkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan, sebuah langkah yang pada Mei 2026 menjadi perhatian di sektor peternakan karena menyasar sekitar 5 ribu peternak unggas di 26 provinsi.
Program ini diumumkan oleh Badan Pangan Nasional atau Bapanas sebagai upaya menjaga pasokan sekaligus menekan gejolak harga bahan baku pakan ternak.
Tidak sedikit peternak skala kecil mengaku bahwa biaya pakan sering menjadi pengeluaran terbesar dalam usaha mereka.
Dalam industri ayam petelur maupun ayam pedaging, jagung memang menjadi bahan utama karena memiliki kandungan energi tinggi dan dipakai dalam formulasi pakan harian.
Melalui program tersebut, pemerintah mengalokasikan sekitar 242 ribu ton jagung pakan untuk disalurkan hingga akhir 2026.
Sasaran penerimanya tidak hanya peternak besar, tetapi juga peternak skala mikro, kecil, dan menengah dengan total populasi sekitar 53 juta ekor unggas.
Pemerintah berharap distribusi jagung ini dapat membantu menjaga biaya produksi tetap terkendali sehingga harga telur dan daging ayam tidak mudah bergejolak di pasar.
Bagi peternak, kestabilan harga pakan bukan persoalan kecil sehingga ketika harga jagung naik terlalu tinggi, sebagian pelaku usaha harus mengurangi jumlah ternak atau menekan biaya lain agar tetap bertahan.
Kondisi itu pada akhirnya bisa memengaruhi produksi telur dan ayam di pasar apabila produksi menurun, harga pangan berbasis unggas juga berpotensi ikut naik dan membebani masyarakat.
Pemerintah menyebut bahwa program ini adalah menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional di Indonesia.
Alasannya sederhana, pasokan protein hewani seperti telur dan ayam sangat bergantung pada kemampuan peternak menjaga biaya produksi tetap stabil.
Karena itu, jagung pakan dipandang bukan sekadar komoditas pertanian biasa, tetapi komponen penting dalam menjaga harga pangan sehari-hari tetap terjangkau.
Meski begitu, sebagian pelaku usaha berharap program semacam ini tidak hanya berlangsung sesaat tetapi mereka menilai juga kestabilan harga jagung perlu dijaga secara konsisten agar peternak tidak terus menghadapi tekanan biaya produksi.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini kemungkinan akan terlihat dari hal sederhana: apakah harga telur dan daging ayam di pasar bisa tetap stabil, sekaligus membuat peternak tidak merugi. (EN)***
























Leave a Reply