Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali menjadi perhatian di Indonesia pada awal 2026. Sejumlah daerah, khususnya di Jawa Timur, melaporkan peningkatan kasus pada hewan ternak yang berpotensi mengganggu sektor peternakan.
Berdasarkan data Dinas Peternakan Jawa Timur, tercatat sebanyak 839 kasus PMK tersebar di 19 kabupaten hingga akhir Januari 2026.
Dari jumlah tersebut, ratusan ternak masih dalam kondisi sakit, sementara sebagian lainnya telah dinyatakan sembuh dan beberapa kasus berujung pada kematian ternak .
Kondisi ini menunjukkan bahwa penyebaran PMK masih terjadi meskipun upaya pengendalian telah dilakukan.
Menanggapi situasi tersebut, pemerintah daerah bersama Kementerian Pertanian Republik Indonesia segera mengambil langkah cepat.
Salah satu strategi utama yang dilakukan adalah mempercepat program vaksinasi massal pada ternak di berbagai wilayah.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bahkan telah mendistribusikan ratusan ribu dosis vaksin sebagai langkah awal pengendalian.
Pada tahap pertama, sekitar 453 ribu dosis vaksin disalurkan ke seluruh kabupaten/kota sebagai bagian dari upaya membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) pada ternak .
Selain itu, total alokasi vaksin yang disiapkan untuk wilayah Jawa Timur pada 2026 mencapai lebih dari 1,5 juta dosis.
Selain vaksinasi, pengawasan lalu lintas ternak juga diperketat. Tingginya mobilitas hewan ternak, terutama menjelang hari besar keagamaan, menjadi salah satu faktor yang memicu penyebaran virus.
Pergantian musim juga disebut turut berkontribusi terhadap meningkatnya kasus PMK di beberapa wilayah .
Para ahli menjelaskan bahwa virus PMK memiliki tingkat penularan yang tinggi dan dapat dengan cepat menyebar antar ternak.
Bahkan, satu hewan yang terinfeksi berpotensi menularkan penyakit ke beberapa hewan lain dalam waktu singkat jika tidak segera ditangani .
Hal ini membuat pengendalian PMK menjadi tantangan besar bagi sektor peternakan, di sisi lain yaitu dampak ekonomi dari PMK juga tidak bisa diabaikan.
Ternak yang terinfeksi biasanya mengalami penurunan produktivitas dan tidak dapat dijual secara optimal.
Kondisi ini berpotensi merugikan peternak, terutama skala kecil yang bergantung pada hasil penjualan ternak sebagai sumber pendapatan utama.
Untuk itu, pemerintah tidak hanya fokus pada vaksinasi, tetapi juga meningkatkan edukasi kepada peternak.
Penerapan biosekuriti, seperti menjaga kebersihan kandang dan membatasi pergerakan ternak, menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran penyakit.
Meski kasus masih ditemukan di beberapa daerah, pemerintah memastikan kondisi tetap terkendali.
Upaya vaksinasi, pengawasan distribusi ternak, serta edukasi kepada peternak terus dilakukan secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, peningkatan kasus PMK pada 2026 menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan dalam sektor peternakan.
Sinergi antara pemerintah dan peternak menjadi kunci utama untuk menekan penyebaran penyakit sekaligus menjaga stabilitas produksi ternak nasional. (EN)***
























Leave a Reply