Bulog Targetkan 6 Juta Ton Cadangan Beras, Apa Dampaknya bagi Harga Pangan?

Stok beras pemerintah disebut mencetak rekor baru. Di tengah pasokan melimpah, masyarakat mulai bertanya apakah harga beras ikut lebih stabil.

Pexels/Abdul Rehman

Stok beras nasional kembali menjadi sorotan setelah Perum Bulog menyampaikan target ambisius pada bulan Mei 2026.

Pemerintah menargetkan cadangan beras pemerintah atau Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dapat mencapai 6 juta ton pada akhir Mei 2026, sebuah angka yang disebut menjadi salah satu capaian tertinggi dalam sejarah pengelolaan pangan nasional.

Hingga 11 Mei 2026, Bulog mencatat stok beras telah berada di angka sekitar 5,3 juta ton, dan jumlah tersebut masih diperkirakan bertambah dalam beberapa pekan berikutnya.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan peningkatan stok terjadi berkat penyerapan hasil panen dari berbagai daerah sentra produksi padi.

Menurutnya, tambahan sekitar 700 ribu ton diproyeksikan masuk hingga akhir Mei sehingga target cadangan beras 6 juta ton dapat tercapai dan peningkatan ini juga disebut menjadi pencapaian tertinggi sepanjang sekitar 59 tahun Bulog berdiri.

Lalu, apa arti angka sebesar itu bagi masyarakat? Secara sederhana, cadangan beras pemerintah berfungsi sebagai penyangga ketika terjadi gangguan pasokan atau kenaikan harga di pasar.

Saat harga beras melonjak atau distribusi terganggu, pemerintah dapat mengeluarkan stok untuk menjaga pasokan tetap tersedia, dengan stok besar, pemerintah berharap gejolak harga bisa ditekan lebih cepat.

Namun, banyak masyarakat masih bertanya apakah stok melimpah otomatis membuat harga beras turun sehingga jawabannya tidak selalu sesederhana itu.

Harga pangan juga dipengaruhi biaya logistik, distribusi antarwilayah, cuaca, serta rantai pasok dari penggilingan hingga pasar.

Karena itu, stok besar memang membantu menjaga kestabilan, tetapi belum tentu langsung membuat harga berubah di seluruh daerah dalam waktu singkat.

Pemerintah menegaskan pembelian gabah tetap mengikuti kebijakan harga pembelian pemerintah agar hasil panen petani tetap memiliki nilai jual yang layak.

Selain menjaga harga konsumen, Bulog juga menjalankan fungsi menjaga harga gabah petani dan dengan begitu, keseimbangan antara kepentingan petani dan kebutuhan masyarakat diharapkan tetap terjaga.

Di tengah tantangan cuaca dan ketidakpastian pangan global, target cadangan beras 6 juta ton menjadi salah satu langkah yang dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Bagi masyarakat, ukuran keberhasilannya mungkin tetap sederhana: apakah beras mudah didapat dan harganya tetap terjangkau di pasar sehari-hari.(EN)***