Meski pemerintah menyebut Indonesia semakin mendekati swasembada pangan, kenyataannya masih ada sejumlah bahan makanan yang sangat bergantung pada impor.
Bahkan, beberapa di antaranya justru dikonsumsi masyarakat hampir setiap hari, mulai dari tahu, tempe, roti, hingga bumbu dapur.
Data terbaru Badan Pangan Nasional menyebut hanya sekitar 5 persen kebutuhan pangan nasional yang masih berasal dari impor, tetapi angka kecil itu tetap mencakup komoditas penting dalam kehidupan sehari-hari, lalu apa saja bahan makanan impor Indonesia yang masih sulit dilepaskan?
1. Kedelai
Kedelai menjadi salah satu komoditas impor terbesar karena merupakan bahan utama tahu dan tempe. Indonesia masih mengimpor sekitar 2,6 juta ton kedelai per tahun, sebab produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Ketergantungan ini membuat harga tahu dan tempe sering ikut bergejolak saat nilai tukar rupiah melemah atau pasokan global terganggu.
2. Bawang putih
Meski menjadi bahan wajib hampir di setiap dapur Indonesia, bawang putih ternyata masih sangat bergantung pada luar negeri. Pemerintah menyebut sekitar 600 ribu ton bawang putih masih diimpor untuk memenuhi kebutuhan domestik karena produksi lokal belum mencukupi. Jika pasokan impor terganggu, harga di pasar biasanya cepat melonjak.
3. Gandum
Yang satu ini mungkin mengejutkan. Indonesia hampir 100 persen bergantung pada impor gandum karena tanaman ini sulit dibudidayakan secara luas di iklim tropis. Padahal gandum digunakan untuk banyak makanan sehari-hari seperti mie instan, roti, tepung terigu, biskuit, hingga gorengan tepung. Ketika harga gandum global naik, efeknya bisa terasa hingga ke warung makan kecil.
4. Daging sapi (ruminansia)
Walaupun peternakan lokal berkembang, Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan daging sapi dan ternak ruminansia. Pada 2026, impor daging ruminansia disebut mencapai sekitar 350 ribu ton, terutama untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga di dalam negeri. Hal ini menjadi alasan kenapa harga daging sering sensitif terhadap kondisi global.
5. Susu dan bahan baku susu
Produk susu dalam negeri memang tersedia luas, tetapi sebagian besar bahan bakunya masih berasal dari luar negeri. Pengamat pangan menyebut ketergantungan impor susu mencapai sekitar 80 persen, terutama untuk kebutuhan industri makanan dan minuman. Akibatnya, harga susu bubuk, keju, atau produk olahan bisa ikut terdampak oleh nilai tukar dolar.
Menariknya, pemerintah menyebut beberapa komoditas seperti beras, jagung pakan, cabai, telur ayam, daging ayam, dan gula konsumsi mulai tidak lagi membutuhkan impor untuk kebutuhan masyarakat karena produksi domestik dinilai mencukupi.
Fakta bahwa masih ada bahan makanan impor Indonesia menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar soal banyak produksi, tetapi juga bagaimana negara mengurangi ketergantungan pada komoditas strategis yang dikonsumsi jutaan orang setiap hari. (EN)***
























Leave a Reply