Super El Nino Ancam Afrika, Kerugian Ekonomi Capai Miliaran Dolar dan Picu Krisis Pangan Serta Migrasi Massal Besar

Super El Nino diprediksi memukul ekonomi Afrika hingga US$20 miliar, memicu krisis pangan, kekeringan, dan migrasi massal.

Pexels/Pixabay

Afrika menghadapi ancaman serius dari fenomena Super El Nino yang diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Para pakar iklim memperingatkan bahwa dampaknya tidak hanya memicu cuaca ekstrem, tetapi juga berpotensi menggerus pertumbuhan ekonomi, memperburuk krisis pangan, serta mendorong gelombang migrasi besar-besaran di berbagai negara di benua tersebut.

Menurut pejabat perubahan iklim dari African Development Bank (AfDB), kerugian ekonomi akibat Super El Nino diperkirakan berada pada kisaran US$10 miliar hingga US$20 miliar. Negara-negara yang paling terdampak diprediksi mengalami penurunan produk domestik bruto (PDB) sekitar 1% hingga 2%, terutama akibat kekeringan berkepanjangan, banjir besar, dan kerusakan infrastruktur.

Ancaman Tidak Hanya pada Pertanian

Fenomena El Nino dikenal menyebabkan perubahan pola cuaca global. Namun, apabila berkembang menjadi Super El Nino, dampaknya akan jauh lebih besar. Afrika diperkirakan menghadapi kombinasi kekeringan ekstrem di beberapa wilayah dan curah hujan berlebihan di wilayah lainnya.

Kondisi tersebut berisiko menurunkan hasil panen, mengganggu pasokan air bersih, serta meningkatkan harga pangan. Sektor pertanian yang menjadi sumber mata pencaharian jutaan penduduk menjadi salah satu yang paling rentan terhadap perubahan iklim ini.

Selain pertanian, sektor energi, transportasi, hingga perbankan juga diperkirakan akan merasakan dampaknya. Infrastruktur yang rusak akibat bencana alam dapat menghambat aktivitas ekonomi, sementara pemerintah harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk pemulihan pascabencana.

Risiko Migrasi Massal dan Ketidakstabilan Sosial

Dampak Super El Nino diperkirakan tidak berhenti pada aspek ekonomi. Kekurangan pangan, air bersih, dan lapangan pekerjaan berpotensi memicu perpindahan penduduk dari daerah yang paling terdampak menuju wilayah yang dianggap lebih aman.

Migrasi dalam jumlah besar dikhawatirkan meningkatkan tekanan terhadap kota-kota besar maupun negara tetangga, sekaligus memperbesar risiko konflik sosial akibat persaingan memperebutkan sumber daya yang semakin terbatas.

Dunia Diminta Tingkatkan Pendanaan Adaptasi Iklim

AfDB menilai kebutuhan pendanaan untuk membantu negara-negara Afrika beradaptasi terhadap perubahan iklim harus meningkat secara signifikan. Dana adaptasi diperkirakan perlu mencapai sekitar US$100 miliar agar berbagai negara mampu memperkuat sistem irigasi, membangun infrastruktur yang lebih tangguh, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.

Peringatan ini juga sejalan dengan berbagai lembaga internasional yang menyebut El Nino tahun ini berpotensi berkembang menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir. Kombinasi pemanasan global dan suhu permukaan laut yang terus meningkat diperkirakan akan memperparah intensitas cuaca ekstrem di berbagai kawasan dunia.

Dampaknya Bisa Meluas ke Perekonomian Global

Meski ancaman terbesar diperkirakan terjadi di Afrika, dampak Super El Nino juga berpotensi dirasakan secara global. Gangguan produksi pangan, kenaikan harga komoditas, hingga meningkatnya inflasi dapat memengaruhi banyak negara yang bergantung pada perdagangan internasional.

Karena itu, para ahli menilai mitigasi perubahan iklim dan peningkatan investasi pada ketahanan iklim menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko ekonomi di masa depan. Jika tidak diantisipasi sejak dini, fenomena cuaca ekstrem ini berpotensi menjadi tantangan besar bagi stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di berbagai belahan dunia.(ALF)***