Senjata Pamungkas Tiongkok Ini Dijamin Bikin AS Ketar-Ketir!

China memiliki keunggulan strategis yang bisa menjadi senjata utama dalam menghadapi tekanan dagang AS. Ini rahasianya!

China memiliki keunggulan strategis yang bisa menjadi senjata utama dalam menghadapi tekanan dagang dari Amerika Serikat (AS): penguasaan atas rantai pasokan logam tanah jarang atau rare earths.

Bahan mineral ini krusial bagi banyak teknologi modern, mulai dari smartphone hingga kendaraan listrik, dan menjadi kunci dalam persaingan teknologi global.

Presiden Xi Jinping sudah sejak lama menyadari pentingnya logam tanah jarang bagi masa depan industri negaranya, terutama sejak pecahnya perang dagang pertama dengan AS di era pemerintahan Donald Trump.

Pada 2019, Xi melakukan kunjungan simbolis ke sebuah fasilitas pengolahan di Ganzhou, menunjukkan betapa vitalnya mineral ini bagi ekonomi dan keamanan nasional China.

“Rare earths adalah sumber daya strategis yang sangat penting,” ucap Xi saat itu, sebagaimana dikutip oleh CNN pada Rabu, 16 April 2025.

Logam tanah jarang terdiri dari 17 unsur mineral yang nilainya bahkan melebihi emas. Meski dapat ditemukan di banyak wilayah, termasuk di Amerika, proses ekstraksi dan pemurniannya sangat kompleks, mahal, serta berisiko tinggi terhadap lingkungan.

Itulah sebabnya, selama bertahun-tahun, banyak negara termasuk AS tetap bergantung pada China dalam hal pemrosesan logam ini.

Berdasarkan data dari Survei Geologi AS, antara 2020 hingga 2023, sekitar 70% pasokan logam tanah jarang yang masuk ke Amerika masih berasal dari China.

Bahkan, hingga tahun 2023, China menyumbang 61% dari total produksi global dan menguasai 92% pangsa pasar dalam proses pemurnian mineral ini—menjadikannya sebagai pemimpin yang tak tertandingi di sektor ini.

Keunggulan ini bukan datang tiba-tiba. China telah memulai pengembangan industri rare earths sejak 1950-an, dengan pertumbuhan signifikan baru terlihat di akhir dekade 1970-an.

Respons China terhadap Tarif Trump

Dalam perkembangan terbaru, China memanfaatkan posisinya tersebut sebagai respons atas eskalasi perang dagang yang kembali mencuat.

Pada 4 April 2025, Beijing memberlakukan pembatasan ekspor terhadap tujuh jenis logam tanah jarang sebagai reaksi atas tarif baru sebesar 34% yang diberlakukan AS di bawah kepemimpinan Trump terhadap barang-barang asal China.

Kebijakan tersebut kini mewajibkan semua perusahaan di China untuk memperoleh izin khusus sebelum mengekspor logam tanah jarang dan produk turunannya, termasuk magnet permanen.

“China menunjukkan kekuatannya dengan memainkan kartu ekonomi secara strategis. Ini pukulan tepat sasaran ke sektor industri Amerika,” ujar Justin Wolfers, profesor ekonomi dan kebijakan publik dari Universitas Michigan.

Magnet berbasis rare earths memungkinkan terciptanya motor dan generator berukuran kecil dengan efisiensi tinggi—komponen penting dalam produk seperti smartphone, kendaraan, mesin jet, bahkan mesin MRI.

Selain itu, logam ini juga sangat penting dalam pembuatan alat pertahanan seperti jet tempur F-35 dan kapal selam nuklir.

Langkah pembatasan ekspor dari China tentu menimbulkan kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan bagi sektor-sektor strategis di AS.

Di sisi lain, AS sebenarnya telah berusaha mengurangi ketergantungan terhadap China. Sejumlah perusahaan lokal tengah meningkatkan kapasitas produksi dan menjalin kemitraan dengan negara-negara sekutu untuk menjamin pasokan bahan mentah.

Namun, upaya tersebut diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun agar bisa memenuhi kebutuhan industri yang sangat besar saat ini.(JC)***