Waspada Cuaca Panas, Jepang Mencetak Rekor Suhu Terpanas pada Bulan Juni 2025!

Sumber: Pexels Ryutaro Tsukata
Sumber: Pexels Ryutaro Tsukata

Bangun Ide – Jepang mencatat bulan Juni terpanas sepanjang sejarah sejak pencatatan dimulai pada 1898, menurut Badan Meteorologi Jepang. Suhu rata-rata bulan tersebut tercatat 2,34 derajat Celsius lebih tinggi dari nilai normal, dipicu oleh sistem tekanan tinggi yang bertahan lama di wilayah tersebut.

Suhu air laut di sekitar pesisir Jepang juga mencapai rekor tinggi, yaitu 1,2 derajat Celsius di atas rata-rata, menyamai rekor pada Juni 2024. Badan Meteorologi memperingatkan bahwa suhu tinggi diperkirakan masih akan berlanjut hingga bulan berikutnya.

Fenomena ini terjadi seiring dengan meningkatnya gelombang panas di berbagai belahan dunia akibat perubahan iklim. Para ilmuwan menyatakan bahwa aktivitas manusia menyebabkan gelombang panas menjadi lebih parah, sering, dan meluas.

Wilayah Eropa juga mengalami gelombang panas ekstrem, dari Prancis hingga Yunani. Serikat pemain sepak bola dunia (FIFPro) telah menyerukan perpanjangan waktu istirahat dalam pertandingan Piala Dunia untuk mengatasi risiko cuaca panas ekstrem bagi atlet.

Meski para ahli meteorologi Jepang menghindari menyimpulkan hubungan langsung antara cuaca ekstrem jangka pendek dengan perubahan iklim, mereka mencatat adanya pola perubahan iklim jangka panjang yang menyebabkan cuaca menjadi semakin tidak menentu.

Jepang masih sangat tergantung pada energi berbasis fosil dan dikritik memiliki campuran energi paling tidak ramah lingkungan di antara negara G7. Pemerintah menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 60% pada 2035 dan mencapai netral karbon pada 2050.

Tahun lalu, Jepang mengalami musim panas dan musim gugur terpanas sejak pencatatan dimulai. Suhu yang tidak normal juga mempengaruhi lingkungan, seperti bunga sakura yang mekar terlalu awal atau tidak mekar sempurna, serta salju puncak Gunung Fuji yang datang terlambat.

Perubahan iklim juga memicu fenomena cuaca ekstrem lainnya, seperti musim hujan yang berakhir lebih cepat, topan yang menyebabkan banjir besar, musim dingin yang kering sehingga rawan kebakaran hutan, dan di sisi lain, curah salju berlebihan yang berisiko menimbulkan longsoran. (ALF)***