Sering Scroll Media Sosial Sebelum Tidur? Kebiasaan Ini Bisa Ganggu Hormon Tubuh Secara Diam-Diam

Scroll media sosial sebelum tidur dapat mengganggu hormon, kualitas tidur, dan kesehatan tubuh jangka panjang.

Pexels/Bastian Riccardi

Di era digital saat ini, banyak orang menjadikan media sosial sebagai teman sebelum tidur.

Aktivitas seperti melihat video pendek, membaca unggahan terbaru, atau sekadar memeriksa notifikasi sering dilakukan hingga larut malam.

Meski terlihat sebagai hiburan ringan, kebiasaan scroll media sosial sebelum tidur ternyata dapat memberikan dampak yang lebih besar dari yang dibayangkan, terutama terhadap keseimbangan hormon dalam tubuh.

Paparan layar ponsel pada malam hari menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kualitas tidur.

Cahaya biru atau blue light yang dipancarkan oleh layar gadget dapat menghambat produksi melatonin, yaitu hormon yang berperan penting dalam mengatur siklus tidur dan bangun.

Ketika produksi melatonin terganggu, tubuh akan kesulitan mengenali waktu istirahat sehingga proses tidur menjadi lebih lambat dan kurang berkualitas.

Gangguan produksi melatonin tidak hanya menyebabkan sulit tidur, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh lainnya.

Hormon ini berperan dalam menjaga ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.

Jika ritme sirkadian terganggu dalam jangka panjang, tubuh berisiko mengalami ketidakseimbangan hormon yang dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental.

Selain melatonin, kebiasaan bermain media sosial sebelum tidur juga dapat meningkatkan kadar hormon stres atau kortisol.

Saat seseorang membaca berita yang memicu kecemasan, melihat konten yang menguras emosi, atau terlibat dalam diskusi yang menegangkan, otak tetap berada dalam kondisi siaga.

Akibatnya, tubuh sulit memasuki fase relaksasi yang diperlukan untuk mendapatkan tidur yang nyenyak.

Peningkatan kadar kortisol secara terus-menerus dapat berdampak pada berbagai aspek kesehatan.

Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, serta meningkatkan risiko gangguan suasana hati.

Dalam beberapa kasus, kadar kortisol yang tinggi juga dikaitkan dengan peningkatan berat badan dan penurunan sistem kekebalan tubuh.

Tidak hanya itu, kurang tidur akibat kebiasaan scroll media sosial juga dapat memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, yaitu ghrelin dan leptin.

Ketika waktu tidur berkurang, produksi ghrelin cenderung meningkat sehingga rasa lapar menjadi lebih sering muncul.

Sebaliknya, kadar leptin yang berfungsi memberikan sinyal kenyang justru menurun.

Akibatnya, seseorang lebih rentan mengonsumsi makanan berlebihan, terutama makanan tinggi gula dan lemak.

Fenomena ini menjelaskan mengapa kebiasaan tidur larut malam sering dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas dan gangguan metabolisme.

Ketidakseimbangan hormon akibat kurang tidur dapat memengaruhi pola makan, energi harian, hingga kesehatan jangka panjang.

Untuk mengurangi risiko tersebut, para ahli menyarankan agar penggunaan media sosial dihentikan setidaknya 30 hingga 60 menit sebelum tidur.

Waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas yang lebih menenangkan seperti membaca buku, melakukan peregangan ringan, meditasi, atau mendengarkan musik yang menenangkan.

Mengaktifkan fitur pengurang cahaya biru pada perangkat elektronik juga dapat membantu meminimalkan dampaknya terhadap kualitas tidur.

Pada akhirnya, kebiasaan scroll media sosial sebelum tidur bukan hanya soal menghabiskan waktu, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan hormonal tubuh.

Dengan membatasi penggunaan gadget pada malam hari, kualitas tidur dapat meningkat, keseimbangan hormon lebih terjaga, dan tubuh memiliki kesempatan yang lebih baik untuk melakukan proses pemulihan secara optimal. (FIR)***