Sabung Ayam dan Sejarah Dibaliknya, Ternyata Pernah Jadi Penyebab Perang Besar di Indonesia!

Kasus kematian tiga anggota kepolisian di Way Kanan saat upaya pembubaran arena sabung ayam marak diperbincangkan. Bagaimana sejarah sabung ayam di Indonesia?

Kasus kematian tiga anggota kepolisian di Way Kanan saat upaya pembubaran arena sabung ayam ilegal baru-baru ini mengejutkan masyarakat.

Insiden ini terjadi ketika aparat mencoba menghentikan praktik perjudian yang masih sering ditemukan meskipun telah dilarang oleh hukum.

Kejadian tragis ini semakin menegaskan bahwa sabung ayam masih berlangsung di berbagai wilayah.

Lebih jauh, peristiwa ini kembali mengangkat diskusi tentang sejarah panjang sabung ayam di Indonesia, yang sejak zaman kerajaan telah menjadi bagian penting dari budaya dan tradisi masyarakat.

Sabung Ayam dalam Sejarah dan Budaya Nusantara

Sabung ayam tidak hanya sekadar bentuk hiburan atau perjudian, tetapi juga merupakan bagian dari budaya dan tradisi di berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu kajian yang paling terkenal mengenai sabung ayam adalah penelitian antropolog Clifford James Geertz dalam esainya Deep Play: Notes on The Balinese Cockfight.

Dalam risetnya di Bali pada tahun 1958, Geertz mengungkapkan bahwa sabung ayam bukan hanya permainan biasa, melainkan sebuah cerminan struktur sosial yang menunjukkan status, kehormatan, dan maskulinitas pemilik ayam.

Dalam bukunya The Interpretation of Cultures: Selected Essays, Geertz menekankan bahwa meskipun ayam yang bertarung, kompetisi sebenarnya terjadi di antara para pemiliknya.

Di Bali, sabung ayam merefleksikan sistem hierarki sosial serta hubungan kekuasaan dalam masyarakat.

Tidak hanya di Bali, praktik ini juga memiliki akar sejarah yang kuat di Jawa, Sunda, Bugis, dan berbagai daerah lainnya di Nusantara.

Dalam The History of Java yang ditulis Thomas Stamford Raffles pada tahun 1817, sabung ayam digambarkan sebagai ajang perlombaan yang populer di kalangan masyarakat Jawa.

Bagi masyarakat Bugis, sabung ayam bahkan menjadi tolok ukur keberanian seseorang. Seorang pria belum dianggap pemberani atau tobarani sebelum mengikuti pertandingan sabung ayam.

Sabung ayam bahkan pernah menjadi pemicu perang besar di Sulawesi antara Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa pada tahun 1562.

Saat itu, Raja Gowa X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng, kalah taruhan dalam pertandingan sabung ayam melawan Raja Bone, La Tenrirawe Bongkange’.

Kekalahan ini dianggap sebagai penghinaan besar (siri’), yang akhirnya berujung pada konflik yang berlangsung selama satu generasi.

Simbolisme Ayam dalam Folklore dan Tradisi

Kisah tentang ayam juga sering muncul dalam berbagai cerita rakyat di Indonesia. Di Jawa, misalnya, terdapat kisah Cindelaras, yang berlatar zaman Kerajaan Jenggala pada abad ke-11.

Cerita ini mengisahkan seorang anak raja yang berhasil menemukan jati dirinya dan kembali ke istana melalui pertandingan sabung ayam.

Di tanah Sunda, terdapat cerita Ciung Wanara, yang berlatar pada masa Kerajaan Galuh abad ke-8, yang juga menggambarkan peran sabung ayam sebagai alat pembuktian diri dan status sosial.

Sementara itu, dalam epos La Galigo dari budaya Bugis, tokoh utama Sawerigading digambarkan memiliki kegemaran terhadap sabung ayam.

Dalam berbagai kisah tersebut, ayam jantan kerap dilambangkan sebagai simbol keberanian, kekuatan, dan maskulinitas.

Bahkan di lingkungan kerajaan, simbol ayam digunakan dalam nama raja. Contohnya adalah Hayam Wuruk, raja Majapahit yang berkuasa pada 1350-1389, di mana namanya berarti “Ayam yang Terpelajar”.

Pada masa lampau, penggunaan nama hewan seperti ayam, gajah, atau kerbau sering menjadi simbol kebesaran bagi seorang pemimpin.

Sabung Ayam di Era Modern

Saat ini, sabung ayam masih dilakukan di beberapa daerah sebagai bagian dari ritual keagamaan, seperti tabuh rah di Bali.

Namun, di banyak tempat, sabung ayam lebih sering dianggap sebagai hobi. Sejumlah komunitas, seperti Paguyuban Penggemar Ayam Jago Indonesia (PAPAJI), telah mengubah format sabung ayam menjadi kompetisi ketangkasan yang lebih terkontrol dan bebas dari unsur perjudian.

Dalam pertandingan modern ini, ayam diadu dengan aturan ketat, menggunakan sistem penilaian yang jelas, serta tanpa penggunaan taji tajam untuk mengurangi risiko kematian.

Nilai ekonomis ayam sabung juga meningkat drastis. Seekor ayam jago yang telah memenangkan banyak kejuaraan dapat dihargai hingga ratusan juta rupiah.

Sayangnya, kebanyakan ayam yang digunakan dalam kompetisi ini berasal dari luar negeri, sementara ayam lokal Indonesia kurang mendapat perhatian sebagai ayam petarung unggulan.

Padahal, Indonesia merupakan salah satu pusat domestikasi ayam di dunia, yang memiliki tanggung jawab besar dalam melestarikan dan mengembangkan ayam lokalnya.

Saat ini, Indonesia memiliki beberapa spesies ayam hutan seperti ayam hutan merah (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau (Gallus varius), yang berpotensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai ayam petarung unggulan.(JC)***