Masih Sering Stretching? Kesalahan Ini Diam-Diam Bikin Otot Cedera Tanpa Kamu Sadari

Kesalahan stretching sering dianggap sepele, padahal bisa memicu cedera otot. Kenali cara stretching yang benar dan aman.

Pexels/RUN 4 FFWPU

Stretching atau peregangan sering dianggap sebagai bagian paling aman dalam aktivitas olahraga.

Banyak orang melakukannya tanpa pikir panjang, baik sebelum maupun setelah latihan.

Padahal, jika dilakukan dengan cara yang salah, stretching justru bisa menjadi pemicu cedera otot, sendi, bahkan ligamen.

Kesalahan-kesalahan kecil yang sering dianggap sepele ini perlu dipahami agar peregangan benar-benar memberi manfaat, bukan masalah.

Salah satu kesalahan paling umum saat stretching adalah melakukan peregangan ketika otot masih dingin.

Otot yang belum dipersiapkan belum cukup elastis untuk ditarik atau diregangkan.

Akibatnya, serat otot lebih mudah mengalami mikro-robekan yang berujung pada nyeri atau cedera.

Idealnya, stretching dilakukan setelah tubuh melakukan pemanasan ringan seperti jalan kaki, gerakan mobilitas sendi, atau aktivitas aerobik ringan selama 5–10 menit.

Kesalahan berikutnya adalah memaksakan posisi stretching hingga menimbulkan rasa sakit.

Banyak orang menganggap semakin sakit berarti semakin efektif, padahal anggapan ini keliru.

Stretching seharusnya memberikan sensasi tarik yang nyaman, bukan nyeri tajam.

Rasa sakit merupakan sinyal tubuh bahwa jaringan otot sedang tertekan berlebihan.

Jika diabaikan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko strain otot.

Durasi peregangan yang terlalu singkat atau terlalu lama juga sering menjadi masalah.

Stretching yang hanya dilakukan 2–3 detik tidak cukup untuk meningkatkan fleksibilitas otot.

Sebaliknya, menahan posisi terlalu lama tanpa teknik yang benar justru dapat mengganggu aliran darah.

Waktu ideal untuk stretching statis umumnya berkisar antara 15–30 detik per otot, dilakukan dengan pernapasan yang stabil.

Kesalahan lain yang jarang disadari adalah melakukan gerakan bouncing atau memantul saat stretching.

Teknik ini, yang dikenal sebagai ballistic stretching, dapat membuat otot berkontraksi secara refleks dan meningkatkan risiko cedera.

Untuk kebanyakan orang, terutama pemula, stretching statis atau dinamis yang terkontrol jauh lebih aman dan efektif.

Kurangnya fokus pada pernapasan juga menjadi faktor yang sering diabaikan.

Menahan napas saat stretching dapat membuat otot menjadi tegang dan sulit rileks.

Pernapasan yang teratur membantu otot lebih rileks dan meningkatkan efektivitas peregangan.

Tarik napas perlahan melalui hidung dan hembuskan melalui mulut saat menahan posisi stretching.

Terakhir, banyak orang melakukan stretching tanpa memperhatikan kebutuhan tubuhnya sendiri.

Meniru gerakan orang lain tanpa memahami batasan tubuh bisa berbahaya, karena setiap individu memiliki fleksibilitas dan kondisi otot yang berbeda.

Stretching yang baik adalah yang disesuaikan dengan kemampuan dan tujuan masing-masing.

Dengan memahami kesalahan umum saat stretching, risiko cedera dapat diminimalkan.

Peregangan yang dilakukan dengan benar tidak hanya meningkatkan fleksibilitas, tetapi juga membantu performa olahraga dan menjaga kesehatan otot dalam jangka panjang. (FIR)***