Malaysia Aviation Group (MAG), perusahaan induk Malaysia Airlines, mengambil langkah tegas setelah seorang pilot maskapai tersebut ditahan aparat Indonesia dalam kasus dugaan penyelundupan narkoba. Perusahaan kini menerapkan tes narkoba wajib bagi seluruh pilot sebagai bagian dari penguatan sistem keselamatan dan pengawasan internal.
Tahap pertama pemeriksaan mencakup sekitar 1.260 pilot Malaysia Airlines dan ditargetkan selesai pada 15 Agustus 2026. Pilot yang tidak mengikuti pemeriksaan sesuai tenggat tidak diperbolehkan menjalankan penerbangan sampai mendapatkan izin kembali berdasarkan prosedur perusahaan dan ketentuan regulator.
Kebijakan tersebut menjadi perhatian karena kasus yang terjadi melibatkan personel penerbangan yang ditahan setelah tiba di Jakarta.
Pilot Ditahan di Jakarta
Kasus bermula pada akhir Juli ketika seorang pilot Malaysia berusia 39 tahun ditahan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Otoritas Indonesia menyatakan menemukan sekitar 26 kilogram MDMA di dalam barang bawaannya.
Hasil pemeriksaan urine yang disampaikan otoritas juga menunjukkan adanya indikasi penggunaan kokain dan metamfetamina. Pilot tersebut kemudian ditetapkan sebagai tersangka dan kasusnya masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang.
Namun, Malaysia Aviation Group memberikan klarifikasi penting mengenai posisi pilot tersebut. Individu yang ditahan merupakan seorang second officer yang sedang berada di kursi jump seat kokpit sebagai pengamat dan bukan pilot yang menerbangkan pesawat. MAG juga menyatakan bahwa ia telah berada dalam kondisi off-duty selama dua hari sebelum kejadian.
Karena itu, perusahaan menegaskan bahwa keselamatan penerbangan pada penerbangan tersebut tetap terjaga karena pesawat dioperasikan oleh dua pilot yang memenuhi kualifikasi.
Tes Narkoba Akan Diperluas
MAG tidak hanya mengandalkan pemeriksaan wajib yang baru diterapkan. Program tersebut akan melengkapi sistem random drug testing yang telah berjalan sebelumnya.
Ke depan, pemeriksaan wajib akan diberlakukan kepada seluruh pilot aktif dalam kelompok maskapai tersebut. Program kemudian direncanakan diperluas kepada kru kabin aktif.
MAG menyatakan langkah tambahan tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk memperkuat standar kebugaran personel penerbangan dan menjaga kepercayaan penumpang.
Standar Keselamatan Penerbangan Diperketat
Sebelum kasus ini terjadi, MAG telah memiliki sejumlah prosedur terkait kelayakan personel untuk bertugas. Sistem tersebut mencakup pemeriksaan sebelum perekrutan, sertifikasi medis Kelas 1 untuk pilot, pemeriksaan alkohol dan narkoba secara berkala, pelatihan berulang, serta pemeriksaan kepatuhan sebelum penerbangan.
Perusahaan juga menggunakan penilaian mandiri sebelum penerbangan untuk memastikan awak berada dalam kondisi yang layak bertugas.
Kasus penahanan pilot di Jakarta kini mendorong Malaysia Aviation Group memperkuat lapisan pengawasan tersebut. Langkah ini diharapkan dapat mencegah pelanggaran serupa sekaligus mempertahankan keamanan penerbangan Malaysia Airlines di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap standar keselamatan maskapai.(ALF)***
























Leave a Reply