Iran Sebut Kesepakatan Selat Hormuz Hampir Final, Namun Jalur Minyak Dunia Belum Dijamin Dibuka Kembali dalam Waktu Dekat

Iran menyebut kesepakatan dengan Oman soal Selat Hormuz hampir tercapai, tetapi pembukaan jalur minyak masih bergantung syarat AS.

Pexels/aboodi vesakaran

Iran mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan Selat Hormuz telah mendekati kesepakatan. Namun, tercapainya kesepakatan antara kedua negara belum otomatis membuat jalur pelayaran strategis tersebut kembali terbuka bagi kapal-kapal internasional.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa proses diplomasi masih menghadapi persoalan yang lebih luas, terutama terkait tuntutan Iran terhadap Amerika Serikat. Tehran menilai pembukaan Selat Hormuz membutuhkan langkah tambahan dari Washington, sehingga kesepakatan Iran-Oman saja belum cukup.

Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena merupakan jalur penting bagi perdagangan energi. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak sekaligus meningkatkan biaya transportasi dan premi risiko pelayaran.

Iran Tetapkan Syarat Sebelum Membuka Jalur

Pemerintah Iran menegaskan bahwa keputusan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz tidak hanya ditentukan melalui negosiasi dengan Oman. Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa pembukaan jalur tersebut bergantung pada kesediaan Amerika Serikat memenuhi persyaratan yang diajukan Tehran.

Salah satu persoalan utama adalah keberadaan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran. Tehran menginginkan perubahan terhadap kebijakan tersebut sebelum aktivitas pelayaran dapat kembali berlangsung secara normal.

Sikap ini membuat harapan pasar mengenai pembukaan Selat Hormuz harus disikapi dengan hati-hati. Kesepakatan diplomatik memang semakin dekat, tetapi implementasinya masih bergantung pada penyelesaian sejumlah isu antara Iran dan AS.

Ancaman terhadap Kapal Masih Berlanjut

Ketidakpastian juga meningkat setelah Uni Emirat Arab menyatakan bahwa Iran kembali menyerang sebuah kapal yang terkait dengan perusahaan energi milik negara, ADNOC, ketika melintas di kawasan Selat Hormuz.

ADNOC sebelumnya melaporkan sejumlah serangan terhadap kapal-kapalnya sejak konflik dimulai. Insiden tersebut memperlihatkan bahwa risiko keamanan di jalur pelayaran masih tinggi meskipun negosiasi diplomatik sedang berlangsung.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan pelayaran dan pasar energi karena pembukaan jalur secara formal belum tentu langsung diikuti normalisasi aktivitas kapal.

Harga Minyak Dunia Jadi Perhatian

Ketidakpastian mengenai Selat Hormuz berpotensi terus memengaruhi harga minyak dunia. Jika jalur pelayaran kembali aman dan kapal tanker dapat beroperasi secara rutin, tekanan terhadap pasokan energi global dapat berkurang.

Sebaliknya, kegagalan negosiasi dapat memperpanjang gangguan perdagangan dan meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak.

Sebelumnya, Amerika Serikat menyatakan optimistis bahwa kesepakatan Iran-Oman dapat segera tercapai dan membuka peluang pencabutan blokade terhadap pelabuhan Iran. Namun, Washington juga menekankan bahwa langkah tersebut bergantung pada pemenuhan komitmen Iran.

Dengan demikian, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa kesepakatan Selat Hormuz memang semakin dekat, tetapi pembukaan jalur minyak belum dapat dipastikan. Pasar global kini menunggu apakah Iran dan Amerika Serikat mampu menyelesaikan perbedaan yang masih menjadi penghambat utama.(ALF)***