Idul Adha Solo Berbeda? Ternyata Ini Penyebabnya

Publik sempat bingung karena Grebeg Besar Idul Adha di Solo digelar dua kali, dipicu dualisme internal Keraton Surakarta.

Akun Instagram @idntimes

Banyak masyarakat sempat bertanya tanya di media sosial hingga percakapan warga, muncul kebingungan setelah beredar informasi bahwa perayaan Idul Adha di Kota Solo seolah berlangsung dalam dua waktu berbeda.

Namun setelah ditelusuri, yang sebenarnya berbeda bukan Hari Raya Idul Adhanya, melainkan tradisi budaya Keraton Surakarta yang dikenal sebagai Grebeg Besar.

Secara nasional, penetapan Hari Raya Idul Adha 2026 diperkirakan berlangsung seragam, yakni pada Rabu, 27 Mei 2026.

Namun di Solo, perhatian publik justru tertuju pada pelaksanaan Grebeg Besar, tradisi tahunan keraton yang identik dengan kirab gunungan hasil bumi sebagai simbol syukur dan kemakmuran.

Tahun ini, tradisi tersebut dipastikan berlangsung dua kali oleh dua kubu berbeda di internal Keraton Kasunanan Surakarta.

Kubu pertama, yang berada di bawah kepemimpinan Pakubuwono XIV Purbaya, menjadwalkan Grebeg Besar pada 27 Mei 2026, bertepatan langsung dengan Hari Raya Idul Adha.

Mereka menyebut pelaksanaan ini mengikuti paugeran atau aturan tradisi keraton yang berlaku selama ini, sehingga prosesi akan diawali dengan kirab gunungan menuju Masjid Besar Keraton sebelum hasil bumi dibagikan kepada masyarakat.

Di sisi lain, kubu KGPH Panembahan Agung Tedjowulan memilih jadwal berbeda, yakni Kamis, 28 Mei 2026 atau sehari setelah Idul Adha.

Menurut juru bicara pihak Tedjowulan, tradisi Grebeg Besar seharusnya dilaksanakan pada hari kedua Idul Adha atau yang dikenal sebagai Bakda Besar kaping kalih dalam tradisi Jawa.

Bahkan, Tedjowulan sempat menyerukan agar keluarga besar keraton tidak menggelar acara secara terpisah demi menjaga persatuan sehingga perbedaan jadwal inilah yang memunculkan kesan bahwa Idul Adha di Solo berlangsung tidak sama.

Padahal, masyarakat umum tetap melaksanakan salat Idul Adha pada tanggal yang sama, sementara yang menjadi pembeda hanyalah agenda budaya di lingkungan keraton.

Konflik internal yang telah berlangsung bertahun-tahun di Keraton Surakarta turut memperbesar perhatian publik terhadap peristiwa ini karena tradisi Grebeg Besar sendiri memiliki makna penting bagi masyarakat Solo.

Selain menjadi bagian dari perayaan keagamaan, kirab gunungan juga dipercaya sebagai simbol doa keselamatan dan kesejahteraan sehingga warga biasanya berebut hasil bumi dari gunungan karena diyakini membawa berkah.

Dengan demikian, isu Idul Adha Solo berbeda sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai perbedaan dalam pelaksanaan tradisi keraton, bukan perbedaan hari raya umat Islam.

Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bagaimana budaya, sejarah, dan dinamika internal kerajaan masih memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sosial di Solo hingga hari ini. (EN)***