Harga beras global mengalami penurunan signifikan hingga mencapai titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya pasokan dari sejumlah negara Asia, termasuk India dan Indonesia.
Situasi ini menimbulkan tekanan bagi negara-negara eksportir utama seperti Thailand, Vietnam, dan Kamboja yang selama ini mengandalkan pasar-pasar tradisional, termasuk Indonesia.
Di tengah gejolak tersebut, Indonesia justru mencatat capaian penting dengan produksi beras tertinggi sepanjang sejarah serta berhasil keluar dari ketergantungan terhadap impor beras konsumsi.
Perum Bulog telah membeli lebih dari 2 juta ton setara beras dari hasil panen dalam negeri sampai awal Mei 2025.
Dengan volume tersebut, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog kini melampaui angka 3,6 juta ton—jumlah tertinggi sejak Bulog berdiri 57 tahun lalu.
Cadangan ini akan digunakan untuk mendukung program-program pemerintah sesuai mandat yang diberikan.
Prihasto Setyanto, Direktur Pengadaan Perum Bulog, menegaskan bahwa pihaknya akan terus menyerap gabah petani secara maksimal untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan pasokan beras nasional.
Ia menyebutkan bahwa Bulog membeli gabah kering panen dari petani dengan harga Rp6.500 per kilogram.
Melalui Tim Jemput Gabah, yang bekerja sama dengan penyuluh pertanian dan Babinsa di lapangan, penyerapan akan terus dilakukan hingga seluruh gudang penuh.
Bulog melakukan pembelian gabah secara langsung dari petani, kelompok tani, dan gabungan kelompok tani, serta menjalin kerja sama dengan penggilingan padi di seluruh Indonesia, baik skala kecil maupun besar.
Sementara itu, pemerintah menyampaikan bahwa produksi beras dalam negeri saat ini sudah melebihi kebutuhan nasional, sehingga pada tahun 2025 Indonesia tidak akan lagi mengimpor beras untuk konsumsi umum.
Kegiatan impor hanya akan dilakukan secara terbatas untuk memenuhi permintaan khusus, seperti kebutuhan hotel, restoran, dan kafe.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak yang berhasil memperkuat cadangan beras nasional.
Dalam keterangannya, ia menekankan bahwa pencapaian ini mencerminkan kedaulatan dan harga diri bangsa.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari kerja sama semua pihak—mulai dari petani hingga Presiden Prabowo Subianto—serta implementasi strategi pertanian seperti pompanisasi, mekanisasi, dan penyediaan benih unggul.
Kini, Indonesia tidak lagi mengimpor beras konsumsi dan berhasil mencatat stok tertinggi dalam sejarah.(JC)***
























Leave a Reply