Benarkah Sawit Tidak Menyerap Air? Ini Fakta Ilmiah Dampak Perkebunan Sawit terhadap Lingkungan Sekitar

Benarkah sawit tidak menyerap air? Simak fakta ilmiah dampak perkebunan sawit terhadap lingkungan dan siklus air.

Pexels/Ihsan Adityawarman

Isu bahwa tanaman sawit tidak begitu menyerap air sering menjadi perbincangan, terutama saat terjadi banjir atau kekeringan di sekitar kawasan perkebunan. Banyak pihak mempertanyakan apakah kelapa sawit benar-benar berkontribusi terhadap menurunnya daya serap tanah. Untuk memahami hal ini, perlu dilihat dari sudut pandang ilmiah dan pengelolaan lahan.

Secara biologis, tanaman kelapa sawit tetap menyerap air untuk proses fotosintesis dan pertumbuhan. Namun, daya serap air sawit dinilai lebih rendah dibandingkan hutan alami yang memiliki vegetasi berlapis, seperti pepohonan tinggi, semak, dan tumbuhan penutup tanah. Hutan alami mampu menahan air hujan lebih lama, sementara perkebunan sawit cenderung memiliki struktur vegetasi yang seragam.

Masalah utama bukan semata pada pohon sawitnya, melainkan pada perubahan tata guna lahan. Pembukaan hutan untuk perkebunan sawit sering menghilangkan lapisan tanah humus dan akar-akar alami yang berfungsi menyerap serta menyimpan air. Akibatnya, air hujan lebih cepat mengalir di permukaan tanah dan meningkatkan risiko banjir saat musim hujan serta kekeringan di musim kemarau.

Selain itu, sistem perakaran sawit yang dominan ke arah vertikal membuat kemampuan menahan air di lapisan atas tanah menjadi terbatas. Berbeda dengan hutan yang memiliki akar menyebar luas, sawit lebih fokus menyerap nutrisi di titik tertentu. Inilah sebabnya tanah di sekitar kebun sawit sering dianggap kurang mampu menyimpan cadangan air.

Namun demikian, menyebut sawit sama sekali tidak menyerap air adalah anggapan yang kurang tepat. Tanaman ini tetap membutuhkan air dalam jumlah besar untuk tumbuh optimal. Permasalahan muncul ketika perkebunan sawit tidak dikelola dengan prinsip keberlanjutan, seperti minimnya tanaman penutup tanah dan buruknya sistem drainase.

Praktik perkebunan sawit berkelanjutan sebenarnya dapat membantu meningkatkan daya serap air. Penggunaan tanaman penutup tanah, pembuatan parit resapan, serta pengelolaan tanah tanpa pembakaran terbukti mampu mengurangi limpasan air. Dengan pengelolaan yang tepat, dampak negatif sawit terhadap siklus air dapat ditekan.

Penting untuk memisahkan antara tanaman sawit sebagai komoditas dan cara pengelolaan lahannya. Sawit bukan satu-satunya penyebab masalah lingkungan, namun pembukaan lahan yang tidak terkontrol dan mengabaikan keseimbangan ekosistem menjadi faktor utama menurunnya daya serap air.

Kesimpulannya, sawit memang tidak menyerap air seefektif hutan alami, tetapi bukan berarti tidak menyerap air sama sekali. Dampak terhadap lingkungan sangat bergantung pada bagaimana perkebunan sawit dikelola. Pendekatan berkelanjutan menjadi kunci agar sawit tetap produktif tanpa merusak keseimbangan alam.(ALF)***