Harimau Sumatera: Sang Raja Hutan yang Kini Terancam Punah dan Kehilangan Takhtanya di Alam Liar

Harimau Sumatera kini makin langka. Hutan rusak dan perburuan liar membuat raja hutan ini kehilangan singgasananya.

Pexels/Ayberk Mirza

Harimau Sumatera: Raja Hutan yang Kini Kehilangan Singgasananya

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah subspesies harimau terakhir yang masih hidup di Indonesia. Dikenal sebagai raja hutan, hewan buas ini dulunya menguasai hutan lebat di Pulau Sumatera. Namun, kini populasinya semakin menipis dan berada di ambang kepunahan.

Dibandingkan dengan subspesies harimau lain, Harimau Sumatera memiliki ukuran tubuh lebih kecil dengan belang yang lebih rapat. Adaptasi ini menjadikannya lebih lincah dalam menjelajahi hutan tropis yang lebat. Mereka hidup soliter dan sangat bergantung pada hutan sebagai tempat berburu dan berkembang biak.

Sayangnya, keberadaan harimau ini semakin terdesak akibat rusaknya habitat alami. Deforestasi masif untuk pembukaan lahan sawit dan hutan industri membuat mereka kehilangan tempat tinggal. Selain itu, konflik dengan manusia dan perburuan liar—baik untuk diambil kulit, taring, atau dijadikan peliharaan ilegal—menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup mereka.

Data dari WWF Indonesia menunjukkan bahwa populasi Harimau Sumatera diperkirakan tinggal sekitar 400 ekor di alam liar. Angka ini terus menurun jika tidak ada upaya serius untuk pelestarian. Beberapa taman nasional seperti Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Kerinci Seblat, dan Tesso Nilo kini menjadi benteng terakhir bagi kelangsungan spesies ini.

Program konservasi yang dilakukan berbagai lembaga termasuk patroli hutan, rehabilitasi habitat, serta edukasi masyarakat lokal terus digencarkan. Namun, tantangan tetap besar karena masih ada pembalakan liar dan lemahnya penegakan hukum terhadap pemburu ilegal.

Harimau Sumatera bukan hanya satwa endemik, tapi simbol penting bagi keberagaman hayati Indonesia. Jika raja hutan ini punah, bukan hanya kehilangan satu spesies—tetapi juga kehancuran ekosistem yang lebih luas.

Menjaga Harimau Sumatera bukan hanya tugas konservasionis, melainkan tanggung jawab kita semua sebagai bangsa yang bangga akan warisan alamnya. Kini saatnya bertindak sebelum takhta sang raja benar-benar hilang untuk selamanya.(ALF)***